Sebarkan Pesan Injil

Jika Yesus Allah, mengapa Ia berkata "Bapa lebih besar daripada Aku"




"...Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib..."

Jika Yesus adalah Allah, mengapa Ia mengatakan "Bapa lebih besar daripada Aku"dalam Yohanes 14:28?

Yohanes 14:28 “Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku.” 

Allah Tidak Berubah dan Inkarnasi Yesus Kristus

Bagaimana bisa Inkarnasi diharmoniskan dengan kekekalan Allah? Allah yang kekal pasti tidak bisa berubah, lalu apakah Allah berubah ketika menjadi manusia Yesus?”


Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus. 1Timotius 2:5

Para ahli teologia besar seringkali harus bergulat dengan pertanyaan satu ini dalam menanggapi guru-guru palsu / pengajar-pengajar sesat. Dalam merumuskan jawaban mereka, para ahli teologia pada awal-awal masa gereja menjunjung tinggi ketetapan firman Tuhan dalam Kitab Suci.

Jika Yesus adalah Allah, mengapa Ia mengatakan 'Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.'



"Jika Yesus adalah Allah, mengapa Ia mengatakan 'Tidak ada yang baik selain Allah saja'?"


picture courtesy: www.lds.org
 
Hal ini sering dipakai oleh mereka yang tidak percaya dan menolak keilahian Kristus, yaitu ketika dalam Markus 10:17-22 Yesus dianggap "menyangkal keilahian-Nya" dengan menolak gagasan bahwa Dia adalah baik. 

Bunyinya sebagai berikut:

"17 Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" 18 Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja. 19 Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!" 20 Lalu kata orang itu kepada-Nya: "Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku." 21 Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." 22 Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya. "

Apakah di sini Yesus menegur orang muda itu karena memanggil-Nya baik dan dengan demikian Yesus menyangkal keilahian-Nya? 

Jika Yesus Allah, Mengapa Ia tidak mengetahui tentang kedangan-Nya yang kedua



"Jika Yesus adalah Allah, mengapa Ia tidak tahu kapan Ia akan datang kembali ?"




Berbicara tentang Kedatangan Yesus yang kedua kali, Matius 24:36 (dan Markus 13:32) mengatakan, "Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja."

Jika Yesus adalah Allah, bagaimana Dia berdoa kepada Allah? Apakah Yesus berdoa kepada diri-Nya sendiri?



Untuk memahami kenapa Yesus dalam kapasitas sebagai Allah di dunia berdoa kepada Bapa-Nya sebagai Allah di Surga, kita perlu mengerti bahwa Bapa yang kekal dan Anak yang kekal memiliki hubungan yang kekal sebelum Yesus menjadi manusia.
Yohanes 5:19-27 menjelaskan soal ini, khususnya di ayat 5:23, di mana Yesus mengajarkan bahwa Bapa mengutus sang Anak, termasuk penjelasan di Yohanes 15:10. Yesus bukan menjadi Anak Allah ketika Dia dilahirkan di Betlehem. Sejak dari kekekalan, Yesus senantiasa/selalu adalah Anak Allah, sekarang dan untuk selama-lamanya.

Jika Yesus adalah Allah, mengapa Dia menyebut Allah "Allah-Ku"?


 


Hal ini adalah suatu hal yang tentu membingungkan. Karena semuanya akan kembali kepada "misteri" dari Trinitas/Tritunggal. Ketika Yesus di kayu salib, Dia mengutip Mazmur 22 (Matius 27:46 Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?;  Markus 15:34 Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?).  Ini adalah Mazmur Daud, yang juga merupakan nubuat Mesianik. Seluruh Mazmur berisi prediksi yang luar biasa oleh Daud tentang Mesias yang akan datang. Jadi, salah satu alasan Dia menyebut Allah "Allah-Ku" adalah untuk memenuhi nubuat Mazmur.

Jika Yesus adalah Allah, dan Yesus mati disalib, apa artinya Allah mati?



Mereka yang tidak percaya sering menggunakan pertanyaan ini untuk menyangkali keilahian Yesus: "Allah kok bisa mati?? Kalau Yesus mati berarti kan Dia bukan Allah!?? "

"Apakah Allah mati? Jika Yesus adalah Allah, dan Yesus mati di kayu salib, apa artinya Allah mati?"



BAHASAN

Arti Salib


Sederhananya, arti salib adalah kematian. 

Dari sekitar abad ke-6 Sebelum Masehi hingga abad ke-4 Sesudah Masehi, salib adalah alat eksekusi yang menyebabkan kematian dengan cara yang paling menyiksa dan paling menyakitkan. Dalam penyaliban, seseorang diikat atau dipakukan ke kayu salib dan dibiarkan menggantung sampai mati. Kematian akan menjadi lambat dan sangat menyakitkan; pada kenyataannya, kata bahasa Inggris 'excruciating' [= sangat menyakitkan] secara harfiah berarti "akibat dari penyaliban." Namun, karena Kristus dan kematian-Nya di kayu salib, arti salib hari ini benar-benar berbeda.


Dalam iman Kristen, salib adalah persimpangan kasih Allah dan keadilan-Nya


image credit : www.bible-history.com

Yesus Kristus adalah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia (Yohanes 1:29). Referensi untuk Yesus sebagai Anak Domba Allah menunjuk kembali kepada institusi Paskah Yahudi dalam Keluaran 12. Bangsa Israel diperintahkan untuk mengorbankan anak domba yang tak bercacat dan mengoleskan darah anak domba itu pada tiang pintu rumah mereka. Darah akan menjadi tanda bagi Malaikat Maut untuk "pass over" [=melewati] rumah itu, meninggalkan mereka yang ditutup oleh darah dalam keselamatan. Ketika Yesus datang kepada Yohanes untuk dibaptis, Yohanes mengenal-Nya dan berseru, "Lihatlah, Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia!" Yohanes 1:29, dengan demikian mengidentifikasi  Yesus dan rencana Allah bagi-Nya untuk dikorbankan sebagai tebusan dosa.

Siapakah yang menyalibkan Yesus?


Jawaban atas pertanyaan ini memiliki banyak sisi.


Pertama, tidak ada keraguan bahwa para pemimpin agama Israel bertanggung jawab atas kematian Yesus. Matius 26:3-4 memberitahu kita bahwa "Pada waktu itu berkumpullah imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi di istana Imam Besar yang bernama Kayafas,  dan mereka merundingkan suatu rencana untuk menangkap Yesus dengan tipu muslihat dan untuk membunuh Dia." Para pemimpin Yahudi menuntut orang-orang Romawi agar Yesus dihukum mati (Matius 27: 22-25). Mereka tidak dapat membiarkan Yesus terus bekerja menunjukkan tanda-tanda dan keajaiban karena hal itu mengancam posisi dan tempat mereka dalam masyarakat beragama yang mereka dominasi (Yohanes 11: 47-50), sehingga "mereka sepakat  membunuh Dia" Yohanes 11:53.


"Ampunilah aku, Tuhan Yesus. Dosa-dosaku telah menyalibkan Engkau. Terimakasih atas kasih pengorbanan-Mu." (Credit: a crucifixion scene from The Passion of the Christ, the movie.)

Kebangkitan Tubuh Kristus

Kebenaran akan kebangkitan tubuh Yesus Kristus adalah sangat penting. Inilah penjelasannya:


Kebangkitan tubuh Yesus Kristus adalah peristiwa paling penting dalam sejarah, menyediakan bukti yang tak terbantahkan bahwa Yesus sebagaimana yang telah Dia akui adalah Anak Allah yang hidup. Kebangkitan tidak hanya merupakan konfirmasi tertinggi atas keilahian-Nya; kebangkitan juga merupakan konfirmasi Kitab Suci, yang telah menubuatkan kedatangan dan kebangkitan-Nya. Selain itu, juga merupakan konfirmasi pengakuan Kristus bahwa Ia akan dibangkitkan pada hari ketiga (Yohanes 2:19-21; Markus 8:31; 9:31; 10:34). Jika tubuh Kristus tidak dibangkitkan, maka kita juga tidak memiliki harapan bahwa tubuh kita kelak akan dibangkitkan (1 Korintus 15:13,16). Bahkan, jika tidak ada kebangkitan tubuh Kristus, maka kita tidak memiliki Juruselamat, tidak ada keselamatan, dan tidak ada harapan hidup yang kekal. Seperti yang dikatakan Rasul Paulus, jika Yesus tidak bangkit, maka iman kita akan "tidak berguna" dan kekuatan yang memberi hidup bagi Injil akan sama tidak ada.
 

Yesus bangkit dari kematian, supaya di dalam Dia kitapun dapat dibangkitkan (hidup kembali).

Karena nasib kita dalam kekekalan dilandaskan pada kebenaran peristiwa bersejarah ini, kebangkitan Kristus telah menjadi target utama serangan Setan terhadap gereja. Dengan demikian, historisitas kebangkitan tubuh Kristus telah diperiksa dan diteliti dari setiap sudut dan dipelajari tanpa henti oleh para sarjana, teolog, profesor dan lain-lain yang tak terhitung jumlahnya selama berabad-abad. Dan meskipun sejumlah teori telah mendalilkan upaya untuk menyangkal peristiwa penting ini, tidak ada bukti sejarah yang dapat dipercaya yang dapat menyangkal kebenaran bahwa kebangkitan Kristus telah sungguh-sungguh terjadi. Di sisi lain, bukti yang jelas dan meyakinkan dari kebangkitan tubuh Yesus Kristus adalah sangat banyak dan tak dapat disangkal .
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...