Sebarkan Pesan Injil

Apa arti penting dari tindakan Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya?




Yesus membasuh kaki para murid (Yohanes 13:1-17) terjadi di ruang atas, sesaat sebelum Perjamuan Terakhir dan memiliki
tiga arti penting. Bagi Yesus, membasuh kaki menunjukkan kerendahan hati-Nya dan kehambaan-Nya. Bagi para murid, Yesus membasuh kaki mereka langsung menunjukkan suatu kontras dari sikap hati mereka pada saat itu. Bagi kita, pembasuhan kaki yang dilakukan Yesus adalah simbol dari peran setiap kita di dalam tubuh Kristus.
 
Berjalan dengan memakai sandal di jalan-jalan kotor Israel pada abad pertama menyebabkan pentingnya membasuh kaki sebelum perjamuan makan bersama, terutama karena dalam perjamuan makan pada masa itu biasanya orang-orang duduk disekitar meja rendah dengan posisi setengah berbaring, sehingga kaki-kaki mereka akan sangat terlihat. Ketika Yesus bangkit dari duduknya dan mulai membasuh kaki murid-murid (Yohanes 13: 4), Dia melakukan pekerjaan rendahan yang biasanya dikerjakan oleh pegawai terendah. Para murid tentulah sangat tercengang dengan tindakan rendah hati dan penghambaan diri ini, bahwa Kristus, Tuhan dan guru mereka, membasuh kaki murid-murid-Nya, padahal semestinya merekalah yang harus membasuh kaki  Yesus. Tetapi ketika Yesus datang ke dunia pertama kalinya, Dia datang bukan sebagai Raja dan Penakluk, namun sebagai Hamba yang menderita seperti yang dikatakan dalam Yesaya 53. Sebagaimana yang diungkapkan Yesus sendiri dalam Matius 20:28, Ia datang “bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Kerendahan hati yang diungkapkan oleh tindakan-Nya membasuh kaki para murid-Nya dengan handuk dan baskom, merupakan bayangan dari tindakan Yesus yang terakhir atas kerendahan hati dan kasih di kayu salib.

Sikap kehambaan Yesus langsung kontras dengan sikap murid-murid yang baru saja berdebat tentang siapa yang terbesar di antara mereka (Lukas 22:24). Karena tidak ada seorang hamba hadir untuk membasuh kaki mereka, tidak akan mungkin mereka mau untuk membasuh kaki satu sama lain. Ketika Tuhan Yesus sendiri membungkuk untuk melakukan tugas rendahan ini, mereka diam tercengang. Meskipun, Petrus merasa sangat tidak nyaman dengan kenyataan bahwa Tuhan membasuh kakinya, dan, karena ia pintar bicara, Petrus pun protes kepada-Nya: "Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya.!" Namun, Yesus kemudian mengatakan sesuatu yang tentu telah mengejutkan Petrus: "Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku." (Yohanes 13:8), perkataan ini mendorong Petrus, yang sungguh-sungguh mengasihi sang Juruselamat, meminta kepada Yesus, "Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!" . Kemudian Yesus menjelaskan arti sebenarnya dari pembasuhan kaki yang dilakukan-Nya. Petrus telah mengalami pembersihan keselamatan dan tidak perlu dibersihkan lagi dalam arti rohani (Kata Yesus kepadanya: "Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua." Yohanes 13:10). Artinya, Petrus dan semua murid-murid Yesus, kecuali Yudas yang tidak pernah menjadi milik Kristus, sudah dibasuh total dalam arti rohani telah diselamatkan dan telah menjadi milik Kristus, sehingga tidak perlu dibasuh seluruhnya seperti permintaan Petrus itu, dan hanya memerlukan basuhan kaki saja.

Keselamatan adalah tindakan satu kali yaitu pembenaran karena iman kepada Yesus, tetapi proses pengudusan adalah terus menerus seumur hidup yaitu pembasuhan dari noda-noda dosa yang kita alami pada saat kita menjalani kehidupan di dunia.

Kebenaran ini hanyalah salah satu dari beberapa hal dalam kejadian ini yang dapat diterapkan dalam kehidupan setiap orang Kristen. 

Pertama, ketika kita datang kepada Kristus untuk membasuh dosa-dosa kita, kita dapat yakin bahwa pembasuhan itu adalah permanen dan lengkap. Tidak ada tindakan apapun yang dapat  lebih membersihkan kita dari dosa kita selain penebusan Kristus, sebab dosa kita telah ditukar dengan kebenaran Kristus yang sempurna di kayu salib (2 Korintus 5:21). Tetapi kita perlu pembasuhan yang terus-menerus sebagai akibat hidup dalam daging di dalam dunia berdosa yang telah dikutuk. Pembasuhan terus-menerus adalah pengudusan yang dilakukan oleh kuasa Roh Kudus, yang tinggal di dalam kita, melalui “memandikannya dengan air dan Firman” (Efesus 5:26), yang diberikan kepada kita untuk memperlengkapi kita untuk setiap perbuatan baik  (2Timotius 3:16-17 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.).

Selanjutnya, ketika Yesus membasuh kaki para murid, Ia mengatakan kepada mereka (dan juga kepada kita), “sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” (Yohanes 13:15). Sebagai pengikut Kristus, kita harus meneladani-Nya, melayani satu sama lain dalam kerendahan hati dan pikiran, berusaha untuk membangun satu sama lain dalam kerendahan hati dan kasih. Ketika kita mencari keunggulan, kita tidak menyenangkan Tuhan yang berjanji bahwa kebesaran sejati dalam kerajaan-Nya dicapai oleh mereka yang memiliki hati kehambaan (Markus 9:35 Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya." ; Markus 10:43b-44 Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.). Ketika kita memiliki hati hamba, Tuhan berjanji, kita akan sangat diberkati (Yohanes 13:17 Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.).


Sumber : GotQuestions.org

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...