Meneladani Kehidupan Ester


Sudahkah anda membaca dan merenungkan kitab Ester? Apa yang dapat kita teladani dari kehidupan Ester?




Siapakah Ester?

"Mordekhai itu pengasuh Hadasa, yakni Ester, anak saudara ayahnya, sebab anak itu tidak beribu bapa lagi; gadis itu elok perawakannya dan cantik parasnya. Ketika ibu bapanya mati, ia diangkat sebagai anak oleh Mordekhai."  Ester 2:7


Menurut ayat di atas, Ester adalah seorang gadis Yahudi yatim piatu, terlahir dengan nama Ibrani : Hadasa, yang di angkat anak oleh Mordekhai, paman/saudara ayahnya, karena ia sudah tidak beribu-bapak lagi. Ester harus keluar dari lingkungan yang dikenalnya dan meninggalkan orang yang telah membesarkan dan yang dikasihinya, yaitu pamannya, Mordekhai, karena ia kini ditempatkan di istana untuk menjadi salah satu wanita yang akan dipakai untuk memenuhi keinginan seksual raja. Raja Ahasyweros (Xerxes) adalah putra dari raja terkenal, Darius I, yang disebutkan dalam Ezra 4:24; 5:5-7; 6:1-15; Daniel 6:1, 25; Hagai 1:15; dan 2:10. Kisah Ester dan raja Ahasyweros ini terjadi sekitar tahun 483 SM. Kerajaan raja Ahasyweros ini sangat besar; bahkan pada kenyataannya, adalah kerajaan terbesar yang pernah ada di dunia. Kerajaannya meliputi wilayah yang sekarang dikenal sebagai Turki, Irak, Iran, Pakistan, Yordania, Lebanon, dan Israel; juga mencakup bagian dari zaman modern Mesir, Sudan, Libya, dan Arab Saudi.

5 Hal yang Mungkin Belum Anda Ketahui tentang Kitab Ester


Inilah 5 hal yang mungkin belum anda ketahui tentang kitab Ester :

1

Kitab Ester dapat dibagi menjadi tiga bagian utama :
  1. Pasal 1:1 - 2:18 - Ester menggantikan Wasti; 
  2. Pasal 2:19 -7:10 - Mordekhai mengatasi Haman; 
  3. Pasal 8: 1 - 10: 3 - Israel dapat bertahan melawan upaya Haman untuk menghancurkan mereka. 

11 Alasan Dilarang Menikah Lagi Setelah Bercerai - Bagian 3

Lanjutan dari Bagian 2. Artikel ini merupakan terjemahan dari artikel yang ditulis oleh John Piper dalam blognya Desiring God, jadi ini merupakan pandangan Piper tentang 'pernikahan kembali setelah perceraian' berdasarkan prinsip-prinsip Firman Tuhan di dalam Alkitab. Pesan Injil memilih untuk memposting terjemahannya karena kami setuju dengan pandangan ini tentang 'kemungkinan menikah lagi setelah perceraian'.

Karena panjangnya artikel, maka posting dibagi menjadi 3 bagian. Berikut ini


Pandangan Kedua tentang Menikah Lagi Setelah Bercerai. 




11 Alasan mengapa saya percaya bahwa semua pernikahan lagi setelah perceraian dilarang jika kedua pasangan masih hidup.
 

11
Klausula pengecualian dalam Matius 19:9 tidak menyiratkan bahwa perceraian akibat perzinahan membebaskan seseorang untuk dapat menikah lagi. Semua bukti yang memberatkan dalam Perjanjian Baru yang diberikan dalam sepuluh poin sebelumnya, semuanya melawan pandangan ini, dan ada beberapa cara untuk memahami ayat ini dengan baik agar tidak bertentangan dengan ajaran luas dari Perjanjian Baru bahwa pernikahan kembali setelah perceraian itu dilarang.



11 Alasan Dilarang Menikah Lagi Setelah Bercerai - Bagian 2



Lanjutan dari Bagian 1. Artikel ini merupakan terjemahan dari artikel yang ditulis oleh John Piper dalam blognya Desiring God, jadi ini merupakan pandangan Piper tentang 'pernikahan kembali setelah perceraian' berdasarkan prinsip-prinsip Firman Tuhan di dalam Alkitab. Pesan Injil memilih untuk memposting terjemahannya karena kami setuju dengan pandangan ini tentang 'kemungkinan menikah lagi setelah perceraian'.

Karena panjangnya artikel, maka posting dibagi menjadi 3 bagian. Berikut ini

Pandangan Kedua tentang Menikah Lagi Setelah Bercerai.



 
11 Alasan mengapa saya percaya bahwa semua pernikahan lagi setelah perceraian dilarang jika kedua pasangan masih hidup

11 Alasan Dilarang Menikah Lagi Setelah Bercerai - Bagian 1

Lanjutan dari posting sebelumnya Pandangan Pertama tentang Pernikahan Lagi Setelah Perceraian. Artikel ini merupakan terjemahan dari artikel yang ditulis oleh John Piper dalam blognya Desiring God, jadi ini merupakan pandangan Piper tentang 'pernikahan kembali setelah perceraian' berdasarkan prinsip-prinsip Firman Tuhan di dalam Alkitab. Pesan Injil memilih untuk memposting terjemahannya karena kami setuju dengan pandangan ini tentang 'kemungkinan menikah lagi setelah perceraian'.

Karena panjangnya artikel, maka posting dibagi menjadi 3 bagian. Ini adalah posting bagian 1. 

Pandangan Kedua tentang Pernikahan Lagi Setelah Perceraian - Bagian 1
 





11 Alasan mengapa saya percaya bahwa semua pernikahan lagi setelah perceraian dilarang jika kedua pasangan masih hidup
 

1
Lukas 16:18 menyebut semua pernikahan kembali yang terjadi setelah perceraian sebagai perzinahan.

Lukas 16:18: Setiap orang yang menceraikan isterinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah; dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berbuat zinah.

    1.1 Ayat ini menunjukkan bahwa Yesus tidak mengakui perceraian sebagai penghapusan atas pernikahan dalam pandangan Allah. Alasan pernikahan kedua disebut sebagai perzinahan adalah karena yang pertama dianggap masih berlaku. Jadi Yesus mengambil sikap berlawanan terhadap kebudayaan Yahudi di mana semua perceraian dianggap membawa dengan itu hak menikah lagi.

    1.2 Bagian kedua dari ayat ini menunjukkan bahwa bukan hanya pria yang menceraikan saja yang disebut melakukan dosa perzinahan ketika ia menikah lagi, tetapi juga setiap orang yang menikah dengan wanita yang telah diceraikan.

    1.3 Karena tidak ada pengecualian yang disebutkan dalam ayat ini, dan karena Yesus jelas menolak konsepsi budaya umum bahwa jika bercerai berarti berhak untuk menikah lagi, maka pembaca pertama Injil ini pasti akan melawan keras setiap pengecualian yang dilakukan atas dasar anggapan bahwa Yesus setuju terhadap asumsi budaya bahwa perceraian yang terjadi karena ketidaksetiaan atau karena ditinggalkan pasangannya membebaskan pasangan yang diceriakan / ditinggalkan itu untuk menikah lagi.
 

Pertobatan sebelum/sesudah Perceraian, dan Pengampunan


Orang-orang Kristen yang mengejar perceraian dengan alasan yang tidak Alkitabiah dapat dikenakan disiplin gereja karena mereka secara terbuka menentang Firman Allah. Orang yang bercerai secara tidak Alkitabiah dan menikah lagi berarti melakukan dosa perzinahan karena pada mulanya Tuhan  tidak mengizinkan perceraian (Matius 5:32 “Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.”; Markus 10:11-12 "Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah.")



Bahasan kali ini tentang :


Pertobatan (menjadi percaya Kristus) yang terjadi sebelum dan sesudah perceraian. Apakah pandangan Alkitab tentang hal ini?
 

Tentang Kemungkinan Menikah Lagi



Posting sebelumnya membahas tentang apa pandangan Alkitab tentang perceraian,
 
"Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel." Maleakhi 2:16

Perceraian di Alkitab diperbolehkan hanya akibat dosa manusia. Karena perceraian adalah suatu kompromi yang terpaksa diijinkan akibat dosa manusia dan bukan merupakan bagian dari rencana semula Allah untuk pernikahan, semua orang percaya/orang beriman/orang Kristen harus membenci perceraian sebagaimana Allah membencinya dan perceraian hanya dilakukan ketika tidak ada lagi jalan lain untuk menyelamatkan suatu pernikahan.   




Bahasan kali ini adalah tentang kemungkinan untuk menikah lagi. Apakah pandangan Alkitab tentang hal ini?


Apa pandangan Alkitab tentang Perceraian?

Perceraian


Allah membenci perceraian! Dia membenci perceraian karena hal itu selalu melibatkan ketidaksetiaan terhadap keabsahan perjanjian pernikahan atas dua pihak yang telah terikat di dalamnya, dan karena perceraian juga menimbulkan konsekuensi berbahaya yang merusak pasangan dan anak-anak mereka (Maleakhi 2: 14 Dan kamu bertanya: "Oleh karena apa?" Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu. 15 Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya. 16 Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel--juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!). 

Apa yang Alkitab katakan tentang makan darah


Dalam Kisah Para Rasul 10, Rasul Petrus mulai menyadari betapa berbedanya Kekristenan yang baru dibandingkan Yudaisme. Ketika ia sedang berdoa di atap, menunggu untuk makan siang, ia mendapatkan penglihatan. Selembar kain yang berisi berbagai jenis hewan diturunkan dari Surga. Sebuah suara menyuruhnya untuk makan. Petrus menolak keras, menyadari bahwa beberapa hewan dalam lembaran itu dilarang dimakan di bawah hukum Yahudi. Tiga kali lembaran kain berisi hewan-hewan itu diturunkan, dan tiga kali juga Petrus menolak.

Penglihatan ini memiliki tujuan ganda. 

  1. Tujuan pertama, dan yang paling jelas adalah bahwa, di bawah Perjanjian Baru, aturan keagamaan tentang larangan makan hewan-hewan yang haram telah terangkat. Orang Kristen telah dipisahkan/disucikan dan dikenal dari kasih mereka, bukan dari makanan jasmani mereka (34 Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. 35 Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi. Yohanes 13:34-35).  
  2. Tujuan kedua, dan yang lebih dalam, adalah makna bahwa keselamatan di dalam Kristus terbuka juga untuk bangsa-bangsa lain sebagaimana keselamatan terbuka untuk orang-orang Yahudi. Segera setelah Petrus melihat penglihatan tersebut, ia menerima kunjungan seorang utusan non-Yahudi yaitu perwira yang bernama Kornelius yang siap untuk menerima Kristus.


Orang Kristen yang gemar makan daging mengetahui dan menyenangi makna dari penglihatan Petrus ini. Tetapi penglihatan ini tidak secara langsung menunjuk pada dibatalkannya larangan makan darah, melainkan hanya menunjuk pada dibatalkannya daftar makanan haram. 

Jadi, apakah boleh makan darah?

Apa yang Alkitab katakan tentang makanan halal? Apakah ada makanan yang harus dipantang (haram) oleh orang Kristen?




Hukum tentang larangan makan hewan tertentu hanya diperintahkan kepada bangsa Israel.

Imamat pasal 11 mencatat daftar yang diberikan Allah kepada bangsa Israel tentang binatang yang boleh dan yang tidak boleh mereka makan. Hukum tentang makan termasuk larangan memakan daging babi, udang, kerang dan berbagai jenis makanan laut, sebagian serangga, burung bangkai, dan berbagai hewan lainnya. Aturan makan ini tidak pernah dimaksudkan untuk diterapkan pada bangsa lain selain orang Israel. 

Hukum Perjanjian Lama tentang : Larangan memakan daging babi

"Mengapa Hukum Perjanjian Lama melarang makan daging babi?"

Banyak larangan dan persyaratan dalam Perjanjian Lama, sepertinya tidak berguna menurut pandangan dunia Barat modern. Salah satu contohnya adalah larangan makan daging babi (Imamat 11:7). Apalagi, bagi kebanyakan orang, daging babi panggang yang disajikan dengan apel dan selai kacang sangatlah nikmat! Memahami tujuan dari Hukum Musa dan pandangan budaya pada saat itu khususnya mengenai daging babi sangatlah penting untuk dapat menghargai larangan makan daging babi ini.




Hukum yang diberikan kepada bangsa Israel memiliki sejumlah tujuan penting. Menjalankan tindakan-tindakan yang ditentukan Allah bukan sekedar sebuah ritual sederhana; melainkan suatu ketaatan pada Hukum yang menunjukkan iman internal yang kuat kepada Allah dan rasa tunduk pada otoritas-Nya. Ulangan 30 mencatat berkat-berkat yang Allah akan kabulkan untuk Israel jika mereka menaati Dia, dan kutukan yang akan Dia berlakukan jika mereka tidak menaati-Nya. Berkat dan kutuk merupakan bagian integral dari Perjanjian antara Allah dan Israel, di mana Hukum Taurat adalah dasar Perjanjian Bersyarat. Hukum Taurat juga ditegakkan sebagai tanda unik dari hak istimewa yang diberikan kepada Israel, yang mengatur mereka terpisah dari bangsa-bangsa kafir di sekitarnya.

Hubungan antara Doa dan Puasa


Meskipun hubungan antara doa dan puasa tidak secara khusus dijelaskan dalam Kitab Suci, benang merah yang menghubungkan keduanya tampak dalam semua contoh tentang berdoa dan berpuasa yang tercatat dalam Alkitab. Dalam Perjanjian Lama, tampak bahwa puasa dengan doa harus dilakukan dengan rasa kebutuhan dan ketergantungan terhadap Allah, dan /atau ketidakberdayaan mendalam pada saat menghadapi bencana yang sedang berlangsung atau bencana yang diantisipasi akan datang. Doa dan puasa dikombinasikan dalam Perjanjian Lama pada masa berkabung, pertobatan, dan/atau adanya kebutuhan rohani yang mendalam. Suatu ungkapan perendahan diri di hadapan Allah yang maha tinggi.




Pasal pertama dari kitab Nehemia menggambarkan Nehemia berdoa dan berpuasa, karena kesusahan yang mendalam atas berita bahwa Yerusalem akan hancur. Banyak hari dalam waktu doanya yang ditandai dengan air mata, berpuasa, mengaku dosa mewakili umat Israel, dan memohon belas kasihan bagi umat Israel kepada Allah. Begitu kuatnya curahan kekhawatiran Nehemia hingga hampir tak terbayangkan bahwa dia dapat "beristirahat" di tengah-tengah doanya untuk makan dan minum. Kehancuran yang menimpa Yerusalem juga menyebabkan Daniel melakukan sikap merendahkan diri yang sama: "Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu." (Daniel 9: 3). Seperti Nehemia, Daniel berpuasa dan berdoa agar Allah berbelas kasihan terhadap umat Israel, mengatakan, "Kami telah berbuat dosa dan salah, kami telah berlaku fasik dan telah memberontak, kami telah menyimpang dari perintah dan peraturan-Mu," (Daniel 9:5).

Puasa menurut Alkitab: Jenis-jenis Puasa



Menurut Alkitab, apa saja jenis-jenis puasa?


Umumnya, puasa adalah berpantang makan untuk jangka waktu tertentu. Ada berbagai jenis puasa dalam Alkitab, tetapi tidak semua melibatkan makanan. Banyak orang di dalam Alkitab berpuasa, termasuk Musa, Daud, dan Daniel di Perjanjian Lama; serta Hana, Paulus, dan Yesus Kristus dalam Perjanjian Baru.
Puasa yang Alkitabiah sering berkaitan erat dengan pertobatan, seperti dalam contoh Daud, bangsa Israel, dan kota Niniwe. Puasa juga berkaitan dengan doa yang sungguh-sungguh, seperti dalam contoh Raja Yosafat dan Ratu Ester. Puasa yang Alkitabiah berasal dari hati yang tulus mencari Allah (Yesaya 58:3-7). John MacArthur*  memberi komentar pada Yesaya 58: "Orang-orang mengeluh ketika Allah tidak mengakui tindakan religius mereka, tetapi Allah menjawab bahwa puasa mereka hanya setengah hati. Puasa yang munafik mengakibatkan pertengkaran, pertengkaran, dan kepura-puraan, puasa yang munafik tidak memungkinkan doa yang tulus kepada Allah. Puasa terdiri dari lebih dari sekedar ritual lahiriah dan pertobatan pura-pura, melainkan melibatkan penyesalan atas dosa dan kerendahan hatian  konsekuen, memutuskan hubungan dengan dosa dan penindasan pada orang lain, memberi makan yang kelaparan, dan bertindak manusiawi terhadap mereka yang membutuhkan."


Kekerasan dalam Perjanjian Lama, bagian 3




Dalam penaklukan Kanaan, Allah memerintahkan penumpasan total seluruh kota dan bangsa:  
"16 Tetapi dari kota-kota bangsa-bangsa itu yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu, janganlah kaubiarkan hidup apapun yang bernafas, 17 melainkan kautumpas sama sekali, yakni orang Het, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi, dan orang Yebus, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, " (Ulangan 20: 16-17). Dan Yosua melakukan apa yang diperintahkan Allah kepadanya (Yosua 10:40).





Mengapa Allah memberi perintah seperti itu? 

Puasa menurut Alkitab : cara-cara berpuasa

"Apa yang Alkitab katakan tentang bagaimana berpuasa?"




Perjanjian Baru tidak pernah di bagian manapun memberi perintah pengikut Yesus Kristus untuk berpuasa. Kenyataannya, bahkan dalam Perjanjian Lama, orang-orang Yahudi hanya diperintahkan untuk berpuasa pada satu hari dalam setahun, pada Hari Penebusan/Pendamaian ("harus merendahkan diri dengan berpuasa" Imamat 23:27, 29, 32). Setiap pemimpin agama yang memerintahkan untuk berpuasa atau menghindari makanan tertentu melakukannya tanpa persetujuan Alkitab.Namun, Yesus pernah berpuasa (Matius 4:2), dan Dia menyatakan tentang hal berpuasa sekiranya / apabila para pengikut-Nya juga hendak berpuasa pada kesempatan tertentu (“16 Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. 17 Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, 18 supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” Matius 6: 16-18; “Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” Markus 2:20). Jadi, jika puasa adalah sesuatu yang orang Kristen dapat lakukan, apakah cara yang tepat untuk berpuasa? Apa yang Alkitab katakan tentang bagaimana berpuasa?
 

Kekerasan dalam Perjanjian Lama, bagian 2


"Apakah  Allah dapat disebut pembunuh karena membunuh banyak orang?"





Perjanjian Lama mencatat Allah membunuh banyak sekali orang, dan beberapa orang ingin mempercayai bahwa hal ini membuat Allah layak disebut pembunuh. Adanya kesalahpahaman yang mengidentikkan kata "to kill" dan "murder" sebagian didasarkan pada salah penerjemahan perintah ke 6 dari kesepuluh perintah Allah dalam Alkitab versi King James, yang berbunyi “Thou shalt not kill (Keluaran 20:13). Namun, kata “to kill” adalah terjemahan dari kata Ibrani ratsach, yang hampir selalu mengacu pada pembunuhan yang disengaja tanpa sebab. Pengartian yang benar untuk perintah ke 6 ini seharusnya memakai kata "murder" di mana semua terjemahan modern mengartikan perintah sebagai "You shall not murder." Alkitab dalam versi English Basic menerjemahkan dengan benar : "Do not put anyone to death without cause."

Apa yang Alkitab katakan tentang Hukuman Rajam pada Anak yang Memberontak

"Apakah Alkitab benar-benar mengatakan bahwa orang tua harus menghukum mati anak mereka dengan melempari batu apabila anak mereka memberontak?"

Bagian ini menimbulkan banyak pertanyaan dan merupakan salah satu pertanyaan yang memerlukan penjelasan serius. Imamat 20:9 mengatakan, "Apabila ada seseorang yang mengutuki ayahnya atau ibunya, pastilah ia dihukum mati; ia telah mengutuki ayahnya atau ibunya, maka darahnya tertimpa kepadanya sendiri.”


Apa yang Alkitab Katakan tentang Hukuman Rajam dengan Melempari Batu



"Apa yang Alkitab katakan tentang hukuman rajam (hukuman mati dengan melempari batu)?"



Ini juga salah satu bagian yang banyak diserang / dikritik oleh skeptis, mereka menuduh Allah dalam Perjanjian Lama sebagai : kejam, pembunuh dan sangat jahat terhadap umat manusia. Bahkan orang Kristen yang kurang mempelajari Alkitab pun banyak yang terperangah ketika ditunjukkan pada bagian ini. Maka untuk mengerti kebenaran dari firman Allah, mari kita meneliti bagian ini dari Kitab Suci.

Apakah itu hukuman rajam?
Hukuman rajam adalah metode hukuman yang dijalankan oleh sekelompok orang, biasanya rekan-rekan dari pihak orang yang bersalah, dengan melempari batu orang terkutuk itu sampai dia mati. Cara mati dengan dirajam ditetapkan dalam Hukum Perjanjian Lama sebagai hukuman untuk berbagai macam dosa. Baik hewan maupun manusia dapat menjadi obyek hukuman rajam (Keluaran 21:28), dan hukuman rajam ini tampaknya dikaitkan dengan dosa-dosa yang menyebabkan kerusakan permanen pada kerohanian atau kemurnian secara seremonial dari seseorang ataupun binatang.

Kekerasan dalam Perjanjian Lama, bagian 1

Mengapa Allah memerintahkan tindakan kekerasan dalam Perjanjian Lama?




Fakta bahwa Allah memerintahkan pemusnahan seluruh bangsa di Perjanjian Lama telah lama menjadi sasaran kritik keras dari penentang-penentang Kekristenan. Bahwa memang ada kekerasan dalam Perjanjian Lama adalah tidak terbantahkan. Pertanyaannya adalah apakah kekerasan dalam Perjanjian Lama dapat dibenarkan dan diampuni oleh Allah. Dalam buku laris, The God Delusion, karangan seorang atheis bernama Richard Dawkins, ia mengacu pada Allah dari Perjanjian Lama sebagai "pendendam, pembersih etnis yang haus darah." Wartawan bernama Christopher Hitchens mengeluh bahwa Perjanjian Lama berisi perintah untuk melakukan "pembantaian membabi buta." Kritik-kritk lain atas Kekristenan rata-rata bernada tuduhan yang sama, menuduh Yahweh telah melakukan suatu "kejahatan terhadap kemanusiaan".

Tetapi apakah kritik-kritik ini benar? Apakah benar Allah dalam Perjanjian Lama itu adalah "monster moral" yang sewenang-wenang memerintahkan pemusnahan orang-orang tak bersalah, perempuan, dan anak-anak? Apakah reaksi Allah atas dosa-dosa orang Kanaan dan orang Amalek merupakan tindakan kejam "pembersihan etnis" yang tidak berbeda dari kekejaman yang dilakukan oleh Nazi? Atau mungkinkah bahwa Allah memiliki alasan moral yang cukup untuk memerintahkan penghancuran bangsa-bangsa ini?


Tujuan Natal_Natal dan Hukum Taurat_Bagian 2



Posting ini merupakan lanjutan dari bagian 1 : Apa yang terjadi ketika Natal.

NATAL dan HUKUM TAURAT bagian 2






III) Tujuan Natal.


1) Untuk menebus kita, yang ada di bawah hukum Taurat.


Galatia 4:5 - “Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak”.

Lagi-lagi terjemahan bahasa Indonesia ini tidak tepat.

KJV: ‘To redeem them that were under the law, that we might receive the adoption of sons’ [= Untuk menebus mereka yang ada di bawah hukum Taurat, supaya kita bisa menerima pengadopsian sebagai anak].


Tujuan utama dari Natal adalah Jum’at Agung. Tujuan utama Yesus menjadi manusia adalah supaya Ia bisa mati menebus dosa-dosa manusia.
Melalui penebusan yang Kristus lakukan, kita dibebaskan dari hukum Taurat dan diterima sebagai anak.