Pro dan Kontra Perayaan Natal_Bagian 5


Lanjutan dari bagian 4


Bagian 5

6)      Adanya hal-hal yang dianggap salah yang menyertai Natal.


a)   Kata ‘Christmas' itu sendiri.

Kata itu dikatakan berasal dari kata ‘Christ’s Mass’ (= Misa Kristus), dan karena itu orang-orang Protestan yang anti Natal mengatakan bahwa asal usul Natal adalah gabungan dari kekafiran / penyembahan berhala dan Katolik.

Tanggapan saya:
Kalau yang berasal usul dari kafir saja boleh digunakan selama kekafirannya disaring, apalagi yang berasal usul dari Katolik.
Juga kalau hanya persoalan nama, bagi kita yang tinggal di Indonesia gampang saja. Kita pakai saja istilah ‘Natal’, bukan ‘Christmas’. ‘Natal’ berasal dari bahasa Portugis (Encyclopedia Britannica 2000) dan artinya ‘dilahirkan’ atau ‘berkenaan dengan kelahiran’ [Webster’s New World Dictionary (College Edition)].


Pro dan Kontra Perayaan Natal_Bagian 4

Lanjutan dari bagian 3

Bagian 4

d)   Dalam Kristen maupun dalam kehidupan kita sehari-hari ada banyak hal yang berasal dari kekafiran, tetapi tetap dipertahankan, setelah dibuang kekafirannya. Sebagai contoh adalah gelar ‘raja di atas segala raja’ yang sudah kita bahas dalam posting sebelumnya. 

Berikut ini beberapa contoh lain:


Pro dan Kontra Perayaan Natal_Bagian 3

 
Bagian 3

Lanjutan dari bagian 2

5)      Natal berasal dari kekafiran.

Kutipan dari internet:

  1. “Catatan-catatan sejarah di dalam Ensiklopedia, yang bisa kita dapatkan di perpustakaan-perpustakaan, dan yang dapat dipercaya, memberikan fakta-fakta ini: bahwa Natal berasal dari bangsa kafir. Jika ditelusuri, Natal merupakan kepanjangan dari penyembah-penyembah matahari di antara bangsa-bangsa kafir. Banyak hari kelahiran dari para pemimpin kafir dirayakan oleh bangsa Babilonia. Semua perayaan penyembahan berhala ini berasal dari bangsa kafir. Kata Christmas (Natal) berarti Misa Kristus. Kata ini kemudian disingkat menjadi Christ-Mass; dan akhirnya menjadi Christmas. Kita kenal misa ini sebagai Misa Roma Katolik. Tetapi dari mana mereka mendapatkannya? Oleh karena kita mengenalnya lewat Gereja Roma Katolik, dan tidak ada wewenang selain Gereja Roma Katolik, marilah kita selidiki Ensiklopedia Katolik, yang diterbitkan oleh denominasi ini. Di bawah judul Christmas (Natal) engkau akan menemukan kata-kata ini: Natal tidak terdapat pada perayaan-perayaan Gereja jaman dahulu … Bukti awal dari perayaan ini adalah dari Mesir. Adat kebiasaan dari para penyembah berhala yang berlangsung sekitar bulan Januari ini kemudian dijadikan Natal. ... ENSIKLOPEDIA AMERICANA, edisi 1969, berkata: Natal, nama ini berasal dari bahasa Inggris kuno Chrites Maesse dan ejaan sekarang ini nampaknya mulai digunakan pada sekitar abad ke 16. Semua gereja Kristen kecuali gereja Armenia merayakan hari kelahiran Kristus pada tanggal 25 Desember. Tanggal ini tidak dikenal di negeri Barat sampai kira-kira pertengahan abad ke 4 dan di Timur sampai kira-kira seabad kemudian”.
  2. “Mengikuti CARA-CARA ORANG KAFIR bukanlah persoalan mengenai mana yang harus kita lakukan atau mana yang tidak boleh kita lakukan menurut pemikiran kita sendiri. Di dalam 1 Raja-raja 11:4-11 Allah menghukum raja Salomo untuk hal yang satu ini. Allah merobek Kerajaannya darinya”. Penyamaan dengan Salomo, yang memang mendukung penyembahan berhala ini merupakan kegilaan yang tidak perlu ditanggapi. 
  3. “Tradisi ini mungkin berasal dari perayaan Saturnalia, di mana para budak menjadi sejajar dengan tuannya. Membakar kayu Natal dimasukkan menjadi adat orang Inggris yang asalnya dari adat orang Skandinavia tatkala mereka menghormati titik balik matahari pada musim dingin”.
  4. “Asal mula Natal. Alasan mengapa menetapkan tanggal 25 Desember sebagai Natal adalah tidak jelas, tetapi seperti yang dipercayai tanggal ini dipilih untuk menyesuaikan dengan perayaan penyembahan berhala yang berlangsung pada musim dingin waktu terjadi titik balik matahari, yaitu ketika siang hari mulai panjang, untuk merayakan lahirnya kembali sang matahari. Suku-suku bangsa Eropa Utara merayakan Natal mereka pada musim dingin waktu titik balik matahari untuk merayakan kelahiran kembali sang matahari (dewa) sebagai yang memberikan terang dan kehangatan. Saturnalia Romawi (perayaan yang dipersembahkan kepada Saturnus, dewa pertanian) juga berlangsung pada waktu tersebut, dan beberapa adat Natal diperkirakan berakar pada perayaan penyembahan berhala ini. Perayaan ini diadakan oleh beberapa orang terpelajar bahwa kelahiran Kristus sebagai Terang Dunia dianalogikan dengan kelahiran kembali sang matahari agar supaya kekristenan menjadi lebih berarti bagi para petobat baru yang dulunya menyembah matahari”.

Tanggapan:


a)   Penulis internet yang bodoh ini berbicara dengan lidah bercabang.
Perhatikan bagian-bagian yang saya garis bawahi dari kutipan pertama, ketiga dan keempat. Dalam kutipan pertama dia mengatakan bahwa hal itu (bahwa Natal berasal dari kekafiran) ‘dapat dipercaya’. Tetapi dalam kutipan ketiga ia mengatakan ‘mungkin’, dan dalam kutipan keempat ia mengatakan ‘Alasan mengapa menetapkan tanggal 25 Desember sebagai Natal adalah tidak jelas’ dan pada bagian akhir ia menggunakan kata ‘diperkirakan’. Yang mana yang benar?

Pro dan Kontra Perayaan Natal_Bagian 2


Bagian 2


Lanjutan dari bagian 1


3)  Merayakan Natal berarti menilai Kristus menurut daging (2Korintus 5:16).

Kutipan dari internet: “Ada satu ALASAN YANG SANGAT PENTING mengenai hal ini. Paulus mengatakan kepada kita di 2Korintus 5:16, Jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian. Ayat ini di dalam Alkitab versi Amplified dikatakan sbb: Tidak, sekalipun kami pernah menilai Kristus dari sisi pandang manusia dan sebagai manusia, akan tetapi kami sekarang telah memiliki pengetahuan tentang Dia sedemikian sehingga kami tidak lagi mengenal Dia secara daging atau jasmani; Yang Paulus maksudkan adalah bahwa kita harus MENGENAL KRISTUS SECARA ROHANI, di dalam dan oleh ROH, dan bukan MENURUT DAGING, bukan sebagai seorang manusia, bukan menurut huruf-huruf, bukan sebagai seorang bayi … karena hal-hal tersebut TIDAK ADA ARTINYA bagi kita yang memiliki HIDUP ROHANI!”.


Tanggapan :

a)   Orang bodoh ini menuduh dengan menggunakan ayat, tanpa mengerti arti ayat itu.
2Korintus 5:16 - “Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia (Literal: ‘menurut daging’), sekarang kami tidak lagi menilaiNya demikian”.

Ada 2 penafsiran yang memungkinkan tentang ayat ini:
  1. ‘Menilai Kristus menurut daging’ artinya menilainya sesuai dengan pengertian agama Yahudi pada jaman itu, dimana Mesias dianggap sebagai raja duniawi yang akan membebaskan mereka dari penjajahan Romawi. Sebaliknya menilai Kristus secara rohani, berarti menerima / mempercayai Dia sebagai Raja dan Juruselamat secara rohani.
  2. ‘Menilai Kristus menurut daging’ artinya menganggap Dia hanya sebagai manusia saja. Sedangkan menilai Kristus secara rohani artinya menilaiNya sesuai dengan ajaran Kitab Suci, yang menyatakan Kristus bukan hanya sebagai manusia tetapi juga sebagai Allah, Juruselamat, Mesias, dan sebagainya.

Yang manapun yang benar dari kedua penafsiran di atas ini, jelas menunjukkan bahwa kita tidak bisa menggunakan ayat ini sebagaimana para penulis yang anti Natal itu menggunakannya!


Pro dan Kontra Perayaan Natal_Bagian 1


Bagian 1


Selama ratusan, atau bahkan ribuan tahun, Natal dirayakan / diperingati oleh orang-orang Kristen di seluruh dunia, dari segala macam aliran dan bahkan sekte. Tetapi akhir-akhir ini muncul orang-orang Kristen yang menentang perayaan Natal, dan kelihatannya makin lama makin banyak orang-orang Kristen yang menentang perayaan Natal, dan mereka menentang dengan cara yang sangat fanatik dan keras, dan menyerang / menghakimi orang-orang Kristen yang merayakan Natal. Jika hal ini dibiarkan, maka:

  • Natal bisa berkurang kesemarakannya, dan itu akan sangat merugikan Kekristenan.
  • Orang-orang Kristen yang kurang mempunyai pengertian Kitab Suci bisa terseret ke dalam gerakan anti Natal ini.

Karena itu mari kita membahas persoalan ini, agar kita dapat memberikan jawaban kepada orang-orang yang anti Natal.


Berikut ini macam-macam alasan untuk menentang perayaan Natal dan jawabannya:

Penjelasan : Yesus 'sedikit lebih rendah' dari malaikat



Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia. Ibrani 2:9.




Yesus sedikit lebih rendah dari para malaikat (Mazmur 8:5; Ibrani 2:7)"

Ayat-ayat yang menyatakan bahwa Yesus 'sedikit lebih rendah' dari pada malaikat-malaikat ini sering dijadikan dasar hinaan / ejekan orang-orang yang tidak percaya, untuk menunjukkan bahwa Yesus bukan Allah. Lalu apakah maksud sebenarnya dari ayat-ayat ini ?


Berikut ini penjelasannya:

Mazmur 8:5 (Alkitab bahasa Indonesia ayat 6) adalah nubuatan tentang Yesus Kristus. Ketika sang pemazmur menyatakan kemuliaan Tuhan, pikirannya melihat kebesaran ciptaan Allah. Dia juga mulai berpikir tentang manusia dan mengajukan pertanyaan ini dalam Mazmur 8:4 (ayat 5):  "apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?"

Kemudian ayat 6 berbunyi, "Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah*, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat." (*Perhatikan kalimat yang digaris bawahi, terjemahan bahasa Indonesia ini kurang tepat, seharusnya diterjemahkan 'sedikit lebih rendah dari mahluk surgawi/Tuhan/malaikat' dalam Alkitab bahasa Inggris: a little lower than the heavenly beings (ESV),  a little lower than the angels (NIV) -  Dalam teks Ibrani, kata yang dipakai untuk the heavenly beings/the angels adalah Elohim, nama yang biasa dipakai untuk Tuhan; Septuaginta menggunakan kata angelos, yang berarti malaikat. Dalam Alkitab bahasa Inggris versi NASB dan NLT menggunakan kata Tuhan : a little lower than God).

Mazmur 8:7 meneruskan, "Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya". Pemazmur memahami dari Kejadian 1: 26-28 bahwa Allah telah memberi manusia kewenangan untuk memerintah dunia yang telah diciptakanNya. Gelar "anak manusia" dapat merujuk kepada Adam sebagai kepala umat manusia. Karena Adam diciptakan sebagai manusia dan diberikan otoritas untuk memerintah dunia, maka Adam dibuat "sedikit lebih rendah" daripada para malaikat, juga dimahkotai dengan kemuliaan dan kehormatan karena ia diciptakan menurut gambar Allah.

Yesus Kristus: Raja di atas segala raja, Tuan di atas segala tuan


 

Gelar ‘Raja di atas segala raja’ (‘King of kings’) digunakan dalam Alkitab sebanyak enam kali. Gelar ini satu kali diterapkan kepada Allah Bapa (1 Timotius 6:15), dan dua kali diterapkan kepada Tuhan Yesus (Wahyu 17:14; 19:16). Tiga lainnya (Ezra 7:12; Yehezkiel 26:7; Daniel 2:37) mengacu ke Artahsasta atau Nebukadnezar, raja-raja yang menggunakan ungkapan untuk menyatakan kedaulatan mutlak mereka atas kerajaan mereka masing-masing (Persia dan Babel). Ungkapan tuan dari segala tuan digunakan dengan sendirinya dalam Kitab Suci dua kali dan mengarah pada Allah Bapa (Ulangan 10:17; Mazmur 136: 3).


Dalam Wahyu 19:16 Yesus diberi gelar lengkap "Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan" (Sebelumnya dalam Wahyu 17:14 menyatakan : "Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja").  Gelar ini menunjukkan seseorang yang memiliki kekuatan untuk menjalankan kekuasaan mutlak atas semua kerajaan -Nya. Dalam hal Tuhan Yesus, kerajaan-Nya adalah semua ciptaan. Di dalam penglihatan Yohanes, Yesus sedang datang kembali untuk menghakimi dunia dan mendirikan kerajaan-Nya di bumi, sebagaimana yang Dia nyatakan dalam Markus 13:26 “Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.”

Penggunaan Perumpamaan


Perumpamaan (=parable) adalah cerita singkat dengan menggunakan hal-hal di dunia untuk mengungkapkan makna surgawi. 


Perumpamaan-perumpamaan Yesus, cerita-cerita singkat dengan ide-ide besar.


Tuhan Yesus sering menggunakan perumpamaan sebagai sarana untuk  penggambaran mendalam tentang kebenaran ilahi. Cerita-cerita perumpaan seperti itu mudah diingat, berani/kuat dalam karakteristik , dan simbol-simbolnya kaya dengan makna. Perumpamaan adalah bentuk umum pengajaran dalam Yudaisme.  

Sebelum titik tertentu dalam pelayanan-Nya, Yesus telah memakai banyak analogi-analogi kehidupan dengan memakai hal-hal umum yang dipahami orang (garam, roti, domba, dan lain-lain) dan maknanya cukup jelas dalam konteks pengajaran-Nya. Perumpamaan memerlukan penjelasan lebih, dan pada satu titik dalam pelayanan-Nya, Yesus mulai mengajar menggunakan perumpamaan-perumpamaan  secara eksklusif.

Pertanyaannya adalah mengapa Yesus membiarkan mayoritas orang bertanya-tanya tentang arti perumpamaan-Nya?