Bagaimana bisa sampai ke Surga - apa gagasan berbagai agama tentang hal ini?




Terdapat lima kategori utama tentang bagaimana menuju ke Surga dalam agama-agama dunia. Sebagian besar percaya bahwa kerja keras dan kebijaksanaan akan menghasilkan pemenuhan yang maksimal, apakah itu persatuan dengan allah/ilah (Hinduisme, Budhisme, dan Baha'i) atau kebebasan dan kemandirian (Scientology, Jainism). Yang lainnya, seperti Unitarianisme dan Wicca, mengajarkan alam baka adalah apapun yang Anda inginkan, dan keselamatan bukanlah sebuah persoalan penting karena sifat dosa tidak ada. Beberapa percaya bahwa kehidupan akhirat tidak ada atau terlalu tidak dapat diketahui untuk dapat dipertimbangkan.

Perbedaan Agama dan Spiritualitas


Sebelum kita mengeksplorasi perbedaan antara agama dan spiritualitas/kepercayaan, pertama-tama kita harus mendefinisikan dua istilah tersebut. Agama dapat didefinisikan sebagai "kepercayaan kepada Allah atau dewa-dewa untuk disembah, biasanya dinyatakan dalam perilaku dan ritual" atau "sistem kepercayaan, penyembahan, dan lain-lain, yang seringkali melibatkan kode etik." Spiritualitas dapat didefinisikan sebagai "kualitas atau fakta bersifat rohani, non-fisik "atau" karakter rohani yang dominan seperti yang ditunjukkan dalam pikiran, kehidupan, dll; kecenderungan rohani. "Singkatnya, agama adalah seperangkat keyakinan dan ritual yang mengklaim dapat menempatkan seseorang dalam hubungan yang benar dengan Allah, dan spiritualitas adalah fokus pada hal-hal rohani dan dunia rohani daripada hal-hal fisik / duniawi. 

Mengapa begitu banyak agama? Apakah semua agama mengarah pada Allah?


Adanya begitu banyak agama dan klaim bahwa semua agama mengarah pada Allah tak diragukan lagi telah membingungkan banyak orang yang dengan sungguh-sungguh mencari kebenaran tentang Allah, kebingungan ini alhasil terkadang menyebabkan keputusasaan untuk mencapai kebenaran mutlak mengenai masalah ini. Atau banyak juga yang akhirnya menganut ajaran universalis yang mengajarkan bahwa  semua agama mengarah pada Allah. Tentu saja, orang-orang  skeptis juga memakai  kebingunan akibat adanya begitu banyaknya agama ini untuk membuktikan bahwa manusia tidak dapat mengenal Allah atau bahwa Allah itu sama sekali tidak ada.

Asal Usul Agama


Agama-agama di dunia. Image credit : pym.org.nz

Sejak jaman dahulu, manusia telah melihat alam di sekeliling dan di atas mereka dan bertanya-tanya tentang dunia, alam semesta dan makna kehidupan. Tidak seperti hewan, manusia memiliki keinginan untuk memahami bagaimana kita sampai di sini, mengapa kita berada di sini dan apa yang akan terjadi setelah kita mati. Adam dan Hawa mengenal TUHAN Allah secara pribadi (Kejadian 3) dan berbicara tentang Dia (4:1). Anak-anak mereka mempersembahkan korban persembahan kepada TUHAN (4: 3-4). Dan pada jaman cucu-cucu mereka, “orang mulai memanggil nama TUHAN” dalam perkumpulan ibadah (4:26).

5 Garis Bukti untuk Kebangkitan Yesus Kristus




Fakta bahwa Yesus Kristus telah dibunuh secara keji di depan umum di Yudea pada abad pertama sesudah Masehi, di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, dengan cara penyaliban, atas perintah Sanhedrin Yahudi. Catatan sejarah non-Kristen Flavius ​​Josephus, Cornelius Tacitus, Lucian of Samosata, Maimonides dan bahkan Sanhedrin Yahudi menguatkan laporan para saksi mata Kristen mula-mula tentang aspek penting sejarah kematian Yesus Kristus ini.

Paskah


"Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya." Matius 28:6. Picture courtesy: Sesawi.net

Paskah berasal dari kata bahasa Yunani dan Latin "Pascha", hari raya yang merayakan hari kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati. Bentuk verbal dari kata ini, pascho dalam bahasa Yunani, berarti "menderita." Awalnya, kata Ibrani pasach mengacu pada pesta Paskah (Keluaran 12) yang dirayakan pada minggu yang sama dengan ketika Yesus disalibkan. Dalam tradisi Yahudi, Paskah adalah 8 hari, dimulai pada Nissan 15, untuk merayakan keluarnya (eksodus) orang-orang Israel dari Mesir.

Ishtar, Easter, Eoster

Siapakah Ishtar? Adakah kaitannya dengan Easter ? Masih menjelaskan mengenai asal usul Easter (yang diterjemahkan Paskah dalam bahasa Indonesia)

Ishtar adalah dewi perang, kesuburan, dan seks Mesopotamia kuno. Dia ditampilkan dalam Epik Gilgames, dan "Gerbang Ishtar" adalah bagian dari Babel Nebukadnezar. Penyembahannya meliputi pengorbanan hewan; benda yang terbuat dari batu sucinya, lapis lazuli; dan pelacuran kuil. Beberapa orang menuduh ada hubungan antara Ishtar dan Paskah (Easter). Sebuah meme*) populer telah beredar di internet sehingga memperkuat tuduhan ini. Pada meme tersebut kata-kata berikut ditempatkan di atas gambar Ishtar: "Ini adalah Ishtar: dibaca 'Paskah' (Easter). Paskah (Easter) pada awalnya adalah perayaan Ishtar, dewi kesuburan dan seks bangsa Asyur dan Babilonia. Lambang Ishtar (seperti telur dan kelinci) masih merupakan lambang kesuburan dan seks (jadi masihkan Anda benar-benar berpikir bahwa telur dan kelinci ada hubungannya dengan kebangkitan?). Setelah kaisar Konstantinus memutuskan untuk mengkristenkan Kekaisaran, Paskah (Easter) telah diubah untuk mewakili Yesus. Tapi pada akarnya, Easter (begitulah cara Anda mengucapkan Ishtar) adalah perayaan kesuburan dan seks."



Namun, sama sekali tidak ada hubungan yang konklusif antara dewi pagan Ishtar dan perayaan Paskah Kristen. Setiap teori bahwa Paskah diberi nama menurut Ishtar adalah sepenuhnya dugaan. Tidak ada bukti bahwa Ishtar pernah dikaitkan dengan telur atau kelinci sebagai lambang. Sebenarnya binatang suci Ishtar sepertinya adalah singa.

Penjelasan asal mula telur dan kelinci Paskah





Adanya pandangan khalayak luas bahwa kata Easter berasal dari tokoh berhala yang disebut Eastre (atau Eostre) yang dirayakan sebagai dewi musim semi oleh bangsa Saxon di Eropa Utara. Satu-satunya masalah dengan teori ini adalah bahwa ia tidak memiliki basis dalam sejarah. Keberadaan dewi bernama Eastre atau festival musim semi untuk menghormatinya didasarkan sepenuhnya murni pada dugaan. Hal yang sama berlaku untuk asal mula kelinci Paskah dan telur Paskah - tidak ada yang tahu pasti bagaimana hal-hal ini menjadi bagian dari perayaan Paskah. Yang paling bisa kita katakan adalah bahwa kata Easter mungkin terkait dengan kata timur (ost dalam bahasa Jerman) dan bahwa bangsa Saxon memiliki satu bulan yang disebut Eosturmononath.