Sebarkan Pesan Injil

Pro dan Kontra Perayaan Natal_Bagian 1


Bagian 1


Selama ratusan, atau bahkan ribuan tahun, Natal dirayakan / diperingati oleh orang-orang Kristen di seluruh dunia, dari segala macam aliran dan bahkan sekte. Tetapi akhir-akhir ini muncul orang-orang Kristen yang menentang perayaan Natal, dan kelihatannya makin lama makin banyak orang-orang Kristen yang menentang perayaan Natal, dan mereka menentang dengan cara yang sangat fanatik dan keras, dan menyerang / menghakimi orang-orang Kristen yang merayakan Natal. Jika hal ini dibiarkan, maka:

  • Natal bisa berkurang kesemarakannya, dan itu akan sangat merugikan Kekristenan.
  • Orang-orang Kristen yang kurang mempunyai pengertian Kitab Suci bisa terseret ke dalam gerakan anti Natal ini.

Karena itu mari kita membahas persoalan ini, agar kita dapat memberikan jawaban kepada orang-orang yang anti Natal.


Berikut ini macam-macam alasan untuk menentang perayaan Natal dan jawabannya:

 

1)  Orang Kristen dilarang merayakan hari ulang tahun, dan dengan demikian merayakan hari ulang tahun Yesus tentu juga salah.

Kutipan dari internet: “Dan, lebih jauh, kita menemukan kebenaran ini diakui: … di dalam firman Allah, hanya orang-orang berdosa saja, bukan orang-orang percaya, yang merayakan hari kelahiran mereka”.

Kutipan dari internet: “the only birthday celebrations recorded in the whole Bible are those of Pharaoh (Genesis 40:20) and King Herod (Mathew 14:6; Mark 6:21). Both birthday parties ended in murder, Herod’s in the murder of John the Baptist” [= perayaan ulang tahun yang dicatat dalam seluruh Alkitab hanyalah perayaan ulang tahun dari Firaun (Kejadian 40:20) dan raja Herodes (Matius 14:6; Markus 6:21). Kedua pesta ulang tahun itu berakhir dengan pembunuhan, pesta ulang tahun Herodes berakhir dengan pembunuhan Yohanes Pembaptis].

Tentang larangan merayakan hari ulang tahun ini, Pdt. Jusuf B. S. juga mengajarkan kebodohan dan keextriman yang sama. Dalam bukunya yang berjudul ‘Tradisi & Kebiasaan’, halaman 24-25, ia juga mengatakan bahwa dalam Perjanjian Lama hanya Firaun yang merayakan HUT (Kejadian 40:20), sedangkan dalam Perjanjian Baru hanya Herodes (Matius 14:6). Juga ia menambahkan bahwa Ayub dan Yeremia justru mengutuki hari kelahirannya (Ayub 3:3  Yeremia 20:14).

  • Kejadian 40:20 - “Dan terjadilah pada hari ketiga, hari kelahiran Firaun, maka Firaun mengadakan perjamuan untuk semua pegawainya. Ia meninggikan kepala juru minuman dan kepala juru roti itu di tengah-tengah para pegawainya”.
  • Matius14:6 - “Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyukakan hati Herodes”.
  • Ayub 3:3 - “‘Biarlah hilang lenyap hari kelahiranku dan malam yang mengatakan: Seorang anak laki-laki telah ada dalam kandungan”.
  • Yeremia 20:14 - “Terkutuklah hari ketika aku dilahirkan! Biarlah jangan diberkati hari ketika ibuku melahirkan aku!”.

Tanggapan:


a)   Ini merupakan pandangan bodoh dan extrim.

Kebodohan dan keextriman kedua penulis internet dan Pdt. Jusuf B. S. ini terlihat dengan jelas pada waktu mereka secara tidak langsung (implicit) melarang seseorang merayakan hari ulang tahun (bukan hanya hari ulang tahun Yesus saja, tetapi semua hari ulang tahun), dengan alasan bahwa dalam Kitab Suci hanya orang jahat yang merayakan hari ulang tahun. Ini merupakan ‘argument from silence’ (= argumentasi dari ke-diam-an) yang merupakan suatu metode penafsiran yang luar biasa bodohnya.

Bahwa Kitab Suci ‘diam’ atau ‘tidak berkata apa-apa’ tentang adanya orang-orang benar yang merayakan hari ulang tahunnya, tidak bisa dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa hal itu dilarang.

Bahwa orang kafir melakukan sesuatu, tidak berarti bahwa orang Kristen tidak boleh melakukan hal itu. Hanya kalau orang kafir melakukan sesuatu yang dilarang oleh Tuhan, barulah orang Kristen dilarang untuk meniru mereka. Tetapi menyalahkan untuk meniru orang kafir pada saat ia melakukan hal-hal, yang dalam dirinya sendiri tidak bisa dikatakan sebagai dosa, seperti mandi, makan, belajar, dan juga merayakan hari ulang tahun / pernikahan dan sebagainya, merupakan suatu fanatisme yang picik, extrim dan bodoh!


b)   Ini sama dengan pandangan Saksi-Saksi Yehuwa.
Hebatnya, ini adalah kebodohan dan keextriman yang persis sama dengan yang dilakukan oleh Saksi-Saksi Yehuwa (buku ‘Bertukar Pikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab’, hal 145-147). Ajarannya persis, dan juga ayat-ayat yang digunakan tentang Firaun dan Herodes juga persis. Mungkin mereka sama-sama mendapat pencerahan dari setan!


c)   Konsekwensi dari ajaran / argumentasi mereka dalam hal ini.
Kalau merayakan hari ulang tahun dilarang dengan alasan bahwa dalam Kitab Suci hanya orang-orang jahat yang merayakan hari ulang tahun, maka dengan cara yang sama kita bisa mendapatkan ajaran-ajaran yang menggelikan, seperti:

1.   Orang Kristen dilarang untuk mencalak mata / alis, yang dalam Kitab Suci hanya dilakukan oleh Izebel (2Raja-Raja 9:30 bandingkan dengan Yehezkiel 23:40 - ini juga orang jahat).
2Raja-Raja 9:30 - “Sampailah Yehu ke Yizreel. Ketika Izebel mendengar itu, ia mencalak matanya, dihiasinyalah kepalanya, lalu ia menjenguk dari jendela”.
Bandingkan dengan Yehezkiel 23:40 - “Tambahan lagi mereka meminta orang-orang datang dari tempat yang jauh dengan menyuruh suruhan memanggil mereka, dan sungguh, mereka datang. Demi kedatangan mereka engkau mandi bersih-bersih, mencalak alismu dan menghias dirimu dengan perhiasan-perhiasan”.

2.   Seorang istri dilarang untuk menghibur dan menolong suaminya yang sedang kesal, karena dalam Kitab Suci hanya Izebel yang melakukan hal itu (lihat 1Raja-Raja 21:1-16).

3.   Orang Kristen dilarang untuk menjadi bendahara gereja, karena dalam Kitab Suci hanya dilakukan oleh Yudas Iskariot (Yohanes 12:6). Dalam Kitab Suci banyak orang menjadi ‘bendahara negara’ tetapi tidak ada bendahara gereja, kecuali Yudas Iskariot.
Yohanes 12:6 - “Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya”.

4.   Orang Kristen dilarang untuk disunat pada usia 13 tahun, karena dalam Kitab Suci hanya Ismael yang mengalami hal itu.
Kejadian 17:25 - “Dan Ismael, anaknya, berumur tiga belas tahun ketika dikerat kulit khatannya”.

5.   Seorang laki-laki dilarang memasakkan makanan untuk ayahnya, karena dalam Kitab Suci hanya Esau yang melakukan hal itu.
 Kejadian 27:30-31 - “(30) Setelah Ishak selesai memberkati Yakub, dan baru saja Yakub keluar meninggalkan Ishak, ayahnya, pulanglah Esau, kakaknya, dari berburu. (31) Ia juga menyediakan makanan yang enak, lalu membawanya kepada ayahnya. Katanya kepada ayahnya: ‘Bapa, bangunlah dan makan daging buruan masakan anakmu, agar engkau memberkati aku.’”.

6.   Orang Kristen tidak boleh mencucuk daging dengan garpu bergigi 3, karena dalam Kitab Suci hanya bujang dari Hofni dan Pinehas yang melakukannya (lihat 1Samuel 2:12-17).

7.   Orang Kristen tidak boleh mandi di sungai karena dalam Kitab Suci hanya puteri Firaun yang melakukannya (Keluaran 2:5). Naaman bukan mandi, tetapi hanya membenamkan diri di sungai untuk mentahirkan kustanya sesuai dengan perintah Elisa.
Keluaran 2:5 - “Maka datanglah puteri Firaun untuk mandi di sungai Nil, sedang dayang-dayangnya berjalan-jalan di tepi sungai Nil, lalu terlihatlah olehnya peti yang di tengah-tengah teberau itu, maka disuruhnya hambanya perempuan untuk mengambilnya”.

8.   Seorang ibu tak boleh membawa anaknya dengan roti dan sekirbat air, karena dalam Kitab Suci hanya Hagar yang melakukan hal itu.
Kejadian 21:14 - “Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba”.

9.   Seorang ibu tidak boleh menangisi anak laki-lakinya yang hampir mati kehausan, karena dalam Kitab Suci hanya Hagar yang melakukan hal itu.
Kejadian 21:16 - “dan ia (Hagar) duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: ‘Tidak tahan aku melihat anak itu (Ismael) mati.’ Sedang ia duduk di situ, menangislah ia dengan suara nyaring”.


d)   Penjelasan tentang Ayub dan Yeremia yang mengutuki hari kelahiran mereka.

Baik Ayub maupun Yeremia memang mengutuki hari kelahiran mereka (Ayub 3:3  Yeremia 20:14), tetapi itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa mereka / Kitab Suci menentang perayaan hari ulang tahun.
Ayub dan Yeremia mengutuki hari kelahiran mereka, karena penderitaan yang mereka alami. Jadi, karena begitu hebat penderitaan yang sedang mereka alami sehingga mereka berharap mereka tidak pernah dilahirkan, dan itu mereka nyatakan dengan mengutuki hari kelahiran mereka. Untuk lebih jelasnya, mari kita membaca seluruh kontext dari ayat-ayat tersebut:

1.   Ayub 3:1-19 - “(1) Sesudah itu Ayub membuka mulutnya dan mengutuki hari kelahirannya. (2) Maka berbicaralah Ayub: (3) ‘Biarlah hilang lenyap hari kelahiranku dan malam yang mengatakan: Seorang anak laki-laki telah ada dalam kandungan. (4) Biarlah hari itu menjadi kegelapan, janganlah kiranya Allah yang di atas menghiraukannya, dan janganlah cahaya terang menyinarinya. (5) Biarlah kegelapan dan kekelaman menuntut hari itu, awan-gemawan menudunginya, dan gerhana matahari mengejutkannya. (6) Malam itu - biarlah dia dicekam oleh kegelapan; janganlah ia bersukaria pada hari-hari dalam setahun; janganlah ia termasuk bilangan bulan-bulan. (7) Ya, biarlah pada malam itu tidak ada yang melahirkan, dan tidak terdengar suara kegirangan. (8) Biarlah ia disumpahi oleh para pengutuk hari, oleh mereka yang pandai membangkitkan marah Lewiatan. (9) Biarlah bintang-bintang senja menjadi gelap; biarlah ia menantikan terang yang tak kunjung datang, janganlah ia melihat merekahnya fajar, (10) karena tidak ditutupnya pintu kandungan ibuku, dan tidak disembunyikannya kesusahan dari mataku. (11) Mengapa aku tidak mati waktu aku lahir, atau binasa waktu aku keluar dari kandungan? (12) Mengapa pangkuan menerima aku; mengapa ada buah dada, sehingga aku dapat menyusu? (13) Jikalau tidak, aku sekarang berbaring dan tenang; aku tertidur dan mendapat istirahat (14) bersama-sama raja-raja dan penasihat-penasihat di bumi, yang mendirikan kembali reruntuhan bagi dirinya, (15) atau bersama-sama pembesar-pembesar yang mempunyai emas, yang memenuhi rumahnya dengan perak. (16) Atau mengapa aku tidak seperti anak gugur yang disembunyikan, seperti bayi yang tidak melihat terang? (17) Di sanalah orang fasik berhenti menimbulkan huru-hara, di sanalah mereka yang kehabisan tenaga mendapat istirahat. (18) Dan para tawanan bersama-sama menjadi tenang, mereka tidak lagi mendengar suara pengerah. (19) Di sana orang kecil dan orang besar sama, dan budak bebas dari pada tuannya”.


Ada 2 hal yang perlu diperhatikan dari text Ayub 3:1-19 ini:

a.   Pengutukan hari kelahirannya jelas disebabkan penderitaannya yang luar biasa hebatnya, yang telah diceritakan dalam Ayub 1-2. Ini menyebabkan ia tidak ingin hidup, dan bahkan berharap:
·         agar ia tidak pernah dilahirkan / gugur (ayat 3,7,10a,16).
·         mati pada saat lahir (ayat 11).
·         agar tidak ada ibu yang memelihara dan menyusuinya (ayat 12).
Tujuan dari harapan ini ada dalam ayat 13: “Jikalau tidak, aku sekarang berbaring dan tenang; aku tertidur dan mendapat istirahat”.

Kalau ayat-ayat seperti ini dipakai sebagai dasar untuk menentang perayaan hari ulang tahun, itu betul-betul suatu pengutipan / penggunaan ayat yang ‘out of context’ (= keluar dari kontext), dan lagi-lagi merupakan suatu metode penafsiran yang sangat salah dan bodoh.

b.   Ayub pasti tidak mengutuki semua hari kelahiran, tetapi hanya hari kelahirannya sendiri saja.
Kalau pengutukan hari kelahiran ini dianggap berlaku umum, maka konsekwensinya adalah bahwa Ayub juga mengutuki, atau menyesalkan, semua orang perempuan yang:
·         mengandung.
·         melahirkan anak.
·         memelihara anak.
·         menyusui anak.
·         dan sebagainya.
Ini tentu gila dan tidak masuk akal!


2.   Yeremia 20:7-18 - “(7) Engkau telah membujuk aku, ya TUHAN, dan aku telah membiarkan diriku dibujuk; Engkau terlalu kuat bagiku dan Engkau menundukkan aku. Aku telah menjadi tertawaan sepanjang hari, semuanya mereka mengolok-olokkan aku. (8) Sebab setiap kali aku berbicara, terpaksa aku berteriak, terpaksa berseru: ‘Kelaliman! Aniaya!’ Sebab firman TUHAN telah menjadi cela dan cemooh bagiku, sepanjang hari. (9) Tetapi apabila aku berpikir: ‘Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi namaNya’, maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup. (10) Aku telah mendengar bisikan banyak orang: ‘Kegentaran datang dari segala jurusan! Adukanlah dia! Kita mau mengadukan dia!’ Semua orang sahabat karibku mengintai apakah aku tersandung jatuh: ‘Barangkali ia membiarkan dirinya dibujuk, sehingga kita dapat mengalahkan dia dan dapat melakukan pembalasan kita terhadap dia!’ (11) Tetapi TUHAN menyertai aku seperti pahlawan yang gagah, sebab itu orang-orang yang mengejar aku akan tersandung jatuh dan mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka akan menjadi malu sekali, sebab mereka tidak berhasil, suatu noda yang selama-lamanya tidak terlupakan! (12) Ya TUHAN semesta alam, yang menguji orang benar, yang melihat batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasanMu terhadap mereka, sebab kepadaMulah kuserahkan perkaraku. (13) Menyanyilah untuk TUHAN, pujilah TUHAN! Sebab ia telah melepaskan nyawa orang miskin dari tangan orang-orang yang berbuat jahat. (14) Terkutuklah hari ketika aku dilahirkan! Biarlah jangan diberkati hari ketika ibuku melahirkan aku! (15) Terkutuklah orang yang membawa kabar kepada bapaku dengan mengatakan: ‘Seorang anak laki-laki telah dilahirkan bagimu!’ yang membuat dia bersukacita dengan sangat. (16) Terjadilah kepada hari itu seperti kepada kota-kota yang ditunggangbalikkan TUHAN tanpa belas kasihan! Didengarnyalah kiranya teriakan pada waktu pagi dan hiruk-pikuk pada waktu tengah hari! (17) Karena hari itu tidak membunuh aku selagi di kandungan, sehingga ibuku menjadi kuburanku, dan ia mengandung untuk selamanya! (18) Mengapa gerangan aku keluar dari kandungan, melihat kesusahan dan kedukaan, sehingga hari-hariku habis berlalu dalam malu?”.

Sama seperti dalam text Ayub di atas, Yeremia juga mengutuki hari kelahirannya (ayat 14,15), karena penderitaannya yang hebat. Penderitaannya disebabkan karena permusuhan dari orang-orang kepada siapa ia memberitakan Firman Tuhan (ayat 7-10). Ini menyebabkan ia ingin mati, yang ia wujudkan dengan mengutuki hari kelahirannya, dan tujuannya hanyalah supaya ia tidak menderita. Ini terlihat dari ayat 18 yang berbunyi: “Mengapa gerangan aku keluar dari kandungan, melihat kesusahan dan kedukaan, sehingga hari-hariku habis berlalu dalam malu?”.

Lagi-lagi, kalau ayat seperti ini dijadikan dasar untuk melarang merayakan HUT, maka itu merupakan pengutipan dan penafsiran ayat yang out of context (= keluar dari kontextnya), yang merupakan suatu cara penafsiran yang salah.


Juga, sama seperti dalam kasus Ayub di atas, Yeremia tentu tidak mengutuk semua hari kelahiran dari semua orang, tetapi hanya hari kelahirannya sendiri saja. Kalau hal khusus seperti ini dianggap berlaku umum / untuk semua orang, maka kita juga harus menganggap bahwa Yeremia:
·         mengutuk setiap orang yang membawa berita kelahiran kepada bapa si bayi (ayat 15).
·         menyenangi keguguran bayi dalam kandungan (ayat 17a).
·         menginginkan semua ibu mengandung selamanya tanpa pernah melahirkan bayinya (ayat 17c-18a).
Merupakan suatu kegilaan untuk menganggap seorang nabi seperti Yeremia bisa seperti itu!



2)  Kristus tidak dilahirkan pada tanggal 25 Desember; tanggal kelahiranNya tidak diketahui.

Orang-orang yang anti Natal itu mengatakan bahwa karena Allah tidak memberitahu kita tanggal kelahiran Kristus, atau karena Allah menyembunyikan tanggal kelahiran Kristus, itu merupakan bukti bahwa Ia tidak menghendaki kita untuk merayakannya.

Disamping itu, orang-orang yang anti Natal itu beranggapan bahwa karena tanggal 25 Desember bukan tanggal kelahiran Kristus, maka kita berdusta kalau kita merayakan hari kelahiran Kristus pada tanggal 25 Desember.

Kutipan dari internet:
  • “Jika Allah memang menghendaki supaya orang-orang Kristen merayakan hari kelahiran-Nya, Dia tentu sudah memberitahu umat-Nya KAPAN KRISTUS DILAHIRKAN! Inilah suatu bukti bahwa jika ALLAH TELAH MERENCANAKAN agar supaya kita merayakan hari kelahiran Kristus, maka Ia tidak akan menyembunyikan tanggal kelahiran-Nya secara sempurna!”.
  • “Tahun demi tahun, para orang tua menghukum anak-anaknya jika mereka berbohong. Kemudian, pada saat Natal, mereka sendiri bercerita kepada anak-anaknya tentang kebohongan Sinterklas ini. Apakah mengherankan jika banyak dari mereka, setelah mereka tumbuh dewasa, mulai mempercayai Allah hanya sebagai sebuah dongeng? Apakah KEKRISTENAN mengajarkan kebohongan dan dongeng-dongeng kepada anak-anak kecil? Jika engkau sudah tidak mengajarkan kebohongan Sinterklas kepada anak-anakmu, lalu ingatlah, bahwa adalah SAMA BOHONGNYA jika engkau mengatakan kepada anak-anakmu bahwa Yesus dilahirkan pada hari Natal!”.


Tanggapan:


a)   Kalau Allah tidak memberi tahu kita kapan Kristus dilahirkan, apakah itu merupakan suatu bukti bahwa Allah tidak menghendaki kita untuk merayakan / memperingatinya? Menurut saya: tidak!
Kita memang tidak tahu kapan Yesus dilahirkan. Ada penafsir yang mengatakan bahwa untuk setiap bulan dalam sepanjang tahun, ada satu kelompok Kristen yang mempercayainya sebagai bulan kelahiran Yesus. Ini memang menunjukkan bahwa tidak ada orang yang tahu tanggal dan bulan kelahiran Kristus, dan mungkin bahkan tahun kelahiranNya. Tetapi itu belum bisa dijadikan suatu bukti bahwa Allah tidak menghendaki kita merayakan / memperingati kelahiran Kristus tersebut. Memang kadang-kadang Allah mengatur sesuatu supaya tidak diketahui oleh manusia, dan Ia melakukan ini karena Ia tidak menghendaki manusia untuk berurusan dengan hal itu. Misalnya dalam persoalan kubur dari Musa. Ini sengaja disembunyikan (Ulangan 34:5-6), karena mungkin Allah tahu bahwa seandainya bangsa Israel tahu tempat itu, mereka mungkin akan melakukan penyembahan terhadapnya. Tetapi tidak selalu seperti itu. Dalam Perjanjian Lama Allah memperkenalkan namaNya kepada Musa (Keluaran 3:14-15), dan ini jelas menunjukkan bahwa pada saat itu Allah menghendaki orang-orang Israel untuk menggunakan nama itu asal tidak dengan sembarangan. Tetapi Allah mengatur sehingga jaman sekarang tidak ada orang yang tahu bagaimana mengucapkan nama Allah tersebut. Akibatnya, jaman sekarang orang Kristen menyebutNya sebagai TUHAN, LORD, YEHOVAH, YAHWEH, Yehuwa, dsb, yang merupakan sebutan-sebutan yang belum tentu benar.

b)   Sebetulnya, tanpa dijelaskanpun, ‘fakta sudah berbicara sendiri’ kepada semua orang bahwa orang Kristen tidak menganggap bahwa Natal terjadi pada tanggal 25 Desember.
Fakta apa? Fakta bahwa banyak orang sudah merayakan Natal pada awal Desember, dan ada orang-orang yang masih merayakan Natal pada bulan Januari dan bahkan Februari. Semua ini sudah menunjukkan secara jelas kepada siapapun yang tidak membutakan dirinya, bahwa orang Kristen memang tidak menganggap bahwa Kristus dilahirkan pada tanggal 25 Desember, dan bahwa kita memang tidak mengetahui tanggal kelahiranNya.

Tetapi kalau itu dirasa kurang cukup, maka dalam merayakannya, kita bisa menjelaskan hal itu kepada jemaat dan khususnya anak-anak Sekolah Minggu, bahwa tanggal 25 Desember itu sebetulnya bukan tanggal kelahiran Yesus yang sebenarnya, dan dengan demikian kita bukan mendustai orang.

c)   Orang yang tidak diketahui tanggal lahirnya sering diberi hari dimana HUTnya bisa dirayakan.
Kita mungkin sering mendengar tentang orang kuno yang tidak mengetahui tanggal kelahirannya sendiri, dan karena itu keluarganya menciptakan tanggal kelahiran baginya, dan merayakannya setiap tahun pada tanggal tersebut. Apakah ini merupakan dusta? Mengapa keluarga tersebut tetap merayakan hari ulang tahun dari orang itu padahal mereka tidak mengetahui tanggal sebenarnya? Saya kira, karena kecintaan mereka terhadap orang itu, sehingga mereka ingin menunjukkan kasih yang khusus terhadap orang itu sedikitnya satu kali setahun. Hal ini tidak terlalu berbeda dengan Natal! Yang penting bukan saat kelahiran Kristus, tetapi fakta bahwa Allah sudah lahir menjadi manusia untuk kita. Kita ingin membalas kasihNya sedikitnya sekali setahun, dengan merayakan hari kelahiranNya, pada hari yang kita sendiri tentukan.


d)   Dusta / fitnahan dari orang-orang yang anti Natal ini.

  • Mereka mengatakan bahwa Natal merupakan suatu kebohongan yang sama dengan Sinterklaas. Ini omong kosong, karena selama point b) di atas kita lakukan, kita sudah bebas dari tuduhan kebohongan. Dan jelas bahwa tidak semua orang Kristen / gereja menggabungkan Natal dengan Sinterklaas. Saya sendiri jelas sangat menentang penggabungan seperti itu.
  • Penulis internet yang anti Natal itu mengatakan ‘Apakah mengherankan jika banyak dari mereka, setelah mereka tumbuh dewasa, mulai mempercayai Allah hanya sebagai sebuah dongeng?’.

Tuduhan-tuduhan ini, khususnya yang kedua, merupakan pemikiran dari orang-orang yang tidak punya logika, dan yang asal menuduh. Tuduhan itu sama sekali bukan merupakan suatu fakta / kebenaran, dan jelas merupakan suatu exaggeration (tindakan melebih-lebihkan), dan karena itu merupakan suatu dusta / fitnah. Pertanyaannya adalah: Siapakah, yang karena dari kecil merayakan Natal, akhirnya tumbuh sebagai orang yang mempercayai bahwa Allah itu hanya sekedar dongeng? Dan seandainya ada orang-orang seperti itu, bagaimana para pemfitnah ini bisa membuktikan bahwa orang-orang itu mempercayai Allah sebagai dongeng karena mereka pada waktu kecilnya diajar merayakan Natal?


Orang-orang yang anti Natal ini menuduh kita yang merayakan Natal sebagai berdusta, sementara mereka sendiri melakukan fitnahan seperti ini. Mungkin mereka sebaiknya memperhatikan kata-kata Yesus dalam Matius 7:1-5 - “(1) ‘Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. (2) Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. (3) Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? (4) Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. (5) Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.’”.


Bersambung ke bagian 2.


Sumber: Golgotha Ministry, Bolehkah Merayakan Natal? oleh Pdt. Budi Asali, M.Div.



Daftar isi, posting bagian 1
Macam-macam alasan untuk menentang Natal dan jawabannya

1) Orang Kristen dilarang merayakan HUT dan Natal adalah HUT Yesus
    a) Ini extrim dan bodoh
    b) Ini = pandangan Saksi Yehuwa
    c) Konsekwensi ajaran ini
    d) Pengutukan Ayub dan Yeremia terhadap hari kelahiran mereka

2) Kristus tidak lahir pada tanggal 25 Desember; kita tak tahu hari kelahirannya
    a) Tak tahu tak berarti tak boleh merayakan
    b) Fakta berbicara bahwa Yesus tidak lahir tanggal 25 Desember
    c) Orang yang tak diketahui tanggal lahirnya diberi hari untuk HUTnya
    d) Dusta / fitnahan dari orang-orang yang anti Natal

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...